Jaringan Ddengan Sekuritas Buruk Lebih Mudah Terancam Seangan Siber

Hits: 48

KONFRONTASI -  Sebuah temuan terbaru dari Global Threat Landscape Report diumumkan oleh Fortinet.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa secara global, termasuk di Asia Pasifik, kebersihan cybersecurity yang buruk dan penggunaan aplikasi berisiko memungkinkan serangan worm yang merusak untuk mengambil keuntungan dari eksploitasi panas pada kecepatan tinggi. Hal ini seperti yang dikutip Merdeka.com dari rilis pers Fortinet.

Para hacker akan menghabiskan lebih sedikit waktu untuk mengembangkan cara penerobosan. Alih-alih, mereka justru akan fokus pada penggunaan alat berbasis otomatis dengan kemungkinan lebih banyak dampak terhadap kelangsungan bisnis.

Berikut beberapa hal yang layak untuk disoroti:

Pentingnya kebersihan cyber

Infrastruktur dan perangkat serangan yang otonom memungkinkan para hacker untuk dengan mudah beroperasi pada skala global. Ancaman seperti WannaCry menjadi luar biasa karena kecepatan penyebaran mereka dan kemampuannya menargetkan berbagai industri.

Namun, sebagian besar bisa dicegah jika lebih banyak organisasi mempraktekkan kebersihan dunia cyber yang konsisten. Sayangnya, hacker masih melihat banyaknya keberhasilan dalam memanfaatkan eksploitasi panas atas serangan yang belum di-patch atau diperbaharui.

Untuk memperumit masalah, sekali saja ancaman tertentu diotomatiskan, para penyerang menjadi tidak terbatas menargetkan industri tertentu saja, sehingga dampak dan tingkat serangan terus meningkat dari waktu ke waktu.

Meningkatnya ransomworms

Baik WannaCry maupun NotPetya menargetkan kerentanan yang hanya memiliki persediaan patch untuk beberapa bulan. Organisasi yang terhindar dari serangan ini cenderung memiliki satu dari dua kesamaan, berupa mereka telah memasang alat keamanan yang telah diperbarui untuk mendeteksi serangan yang menargetkan kerentanan ini, dan atau telah menerapkan patch saat tersedia.

Padahal, sebelum munculnya isu WannaCry dan NotPetya, network worms telah absen selama lebih dari 10 tahun terakhir.

Tingginya tingkat keparahan serangan

Data Q2 secara keseluruhan menghitung 184 miliar total deteksi eksploitasi, 62 juta deteksi malware, dan 2,9 miliar upaya komunikasi botnet.

Tetap aktif selama downtime

Ancaman otomatis tidak berhenti pada akhir pekan atau malam hari. Volume rata-rata harian pada akhir pekan adalah dua kali lipat dari hari kerja.

Penggunaan teknologi merupakan isyarat risiko ancaman

Kecepatan dan efisiensi bisnis merupakan hal penting dalam ekonomi digital, ini berarti tidak ada toleransi untuk perangkat atau sistem yang tidak aktif.

Penggunaan dan konfigurasi teknologi seperti aplikasi, jaringan, dan perangkat evolusi, diiringi pengembangan eksploitasi, malware, dan taktik botnet para penjahat dunia cyber dimanfaatkan kelemahannya.

Secara khusus, penggunaan perangkat lunak yang dipertanyakan oleh bisnis dan perangkat IoT yang rentan terhadap jaringan hyperconnected menunjukkan risiko potensial karena tidak dikelola, diperbarui, atau diganti secara konsisten.

Anehnya, tidak ada bukti bahwa penggunaan aplikasi media berbasis cloud atau media sosial menyebabkan peningkatan jumlah infeksi malware dan botnet.

Perangkat IoT rentan diserang

Hampir satu dari lima organisasi melaporkan penargetan malware terhadap perangkat seluler. Perangkat IoT terus memberikan tantangan karena tidak memiliki tingkat pengendalian, visibilitas, dan perlindungan yang diterima sistem tradisional.

Encrypted Web Traffic justru rentan

Data menunjukkan rekor tertinggi kedua pada kuartal ini adalah di aspek komunikasi terenkripsi di web. Persentase lalu lintas HTTPS meningkat melebihi HTTP menjadi 57 persen. Hal ini terus menjadi tren penting karena ancaman diketahui justru mengarah pada yang menggunakan komunikasi terenskripsi untuk perlindungan.  (Jf/Merdeka )

Rate this article ( 0 Vote )

About The Author

D

Gender: Male lalusyarief@gmail.com